Sakit gigi dan ketakutan

Posted by Mahmudi BM 0 komentar
Kemaren, saya memberikan pembekalan kepada 30 peserta yang akan mengikuti tes SBMPTN yaitu seleksi untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Seperti biasa, saya diminta memberikan sesi hipnoterapi agar peserta dapat tenang, nyaman dan percaya diri saat mengikuti tes. Harapannya mereka dapat menjawab soal-soal dengan benar dan mendapatkan nilai terbaik sehingga bisa diterima di PTN yang mereka idam-idamkan.

Ruangan pelatihan lumayan sempit untuk 30 peserta, meski begitu tidak menghalangi jalannya pelatihan ini. Senang sekali melihat dan berkesempatan menjadi bagian dari perjalanan para peserta menuju keberhasilan hidup mereka, terutama menghadapi tes SBMPTN ini. Tampak raut wajah yang ceria, khas remaja membuat saya terkenang masa-masa remaja seusia mereka.

Sebelum sesi hipnoterapi dimulai, saya menanyakan terlebih dahulu kesiapan para peserta dalam mengikuti tes nanti. Sebagaian besar menyatakan belum sepenuhnya siap. Saya mengerti dan saya menjelaskan pentingnya mempersiapkan emosi dan mental menjelang tes, selain kesiapan fisik dan materi tes yang harus dikuasai.

Untuk memudahkan mereka memahami pentingnya menyiapkan emosi dan mental, saya pun meminta mereka melakukan sebuah simulasi. Untuk simulasi ini,saya memanfaatkan stage hypnosis sederhana untuk memberi pelajaran pada mereka selain bertujuan untuk menarik perhatian dan fokus mereka. Alhamdulillah, hampir seluruh peserta berhasil dalam simulasi ini. Dan merupakan pertanda bagus untuk masuk pada sesi hipnoterapi.

Usai simulasi, saya pun menjelaskan tentang konsep pikiran, emosi, mental dan hubungannya dengan kesiapan menghadapi tes nanti. Lalu, sesi hipnoterapi pun saya berikan. Sambil memberikan pengarahan, saya menyapu pandangan ke seluruh peserta. Sesi ini merupakan sesi yang sangat penting dan saya ingin semuanya berhasil. Senang sekali, semua peserta sungguh-sungguh dalam sesi ini, dan saya bisa melihat ekspresi ketidaknyamanan mereka. Pada saat seperti inilah, saat yang tepat untuk membuang semua ketidaknyamanan itu.

Tampak kelegaan dan rasa nyaman pada wajah mereka. Saya pun ikut lega. Setelah itu sesi saya lanjutkan hingga usai. Mereka pun menebar senyum saat usai. Saat saya tanya lagi tentang tes nanti, mereka mengatakan merasa lebih tenang, rileks, nyaman dan percaya diri. Pelatihan usai dan saya diminta memimpin doa untuk menutup acara.

Senang rasanya bisa menuntaskan sesi hipnoterapi ini dengan lancar dan tampak efek positif pada peserta. Setelah bubar, saya pun menunaikan solat asar. Lalu, saya duduk di ruang resepsionis untuk urusan administrasi. Tiba-tiba seorang peserta duduk disamping dan ingin konsultasi. Saat acara berlangsung dia sempat cerita kalau giginya jadi sakit saat menjalani tes sebelumnya.

Saya pun mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui kemungkinan penyebab timbulnya sakit gigi saat menghadapi tes. Rupanya setelah saya gali, sakit gigi itu ada hubungannya dengan ketakutan dalam pikirannya tentang tes yang dihadapinya. Dalam pikirannya, ia melihat papan pengumuman dan namanya tidak tercantum alias gagal dalam tes.

Saya pun melakukan terapi untuk mengatasi ketakutannya. Cukup beberapa menit saja dan ia merasakan sudah nyaman. Ini adalah kasus unik dan memang setiap orang itu unik. Ketakutan bisa menyebabkan sakit gigi, ini untuk pertama kali saya dengar. Alhamdulillah saya bisa membantu dan satu pelajaran berharga lagi saya dapatkan. Terima kasih ya Allah

Read More..

Nenek berhenti merokok !

Posted by Mahmudi BM 0 komentar
Pada bulan April 2007, saya untuk pertama kalinya belajar terapi. Tepatnya terapi berbasis EFT. Pelatihannya di Hotel Sofyan Betawi, Cikini. Saat itu saya hanya berpikir untuk kepentingan pribadi saja, bagaimana mengatasi hambatan dalam diri dan mengoptimalkan potensi. Saya benar-benar gandrung dengan dunia pengembangan diri pada saat itu, hingga kini.

Berawal dari preview yang diberikan, dimana dalam hitungan menit seorang pecandu rokok bisa menjadi tidak nyaman dengan rokok alias berhenti merokok saya pun tertarik untuk mengikuti pelatihannya. Katanya, tehnik yang digunakan tidak hanya manjur untuk urusan berhenti merokok, melainkan untuk banyak masalah psikis maupun fisik lainnya.

Singkat cerita, saya pun mengikuti pelatihannya. Saya sangat senang sekali. Selain dapat ilmu dan ketrampilan baru, saya pun mendapat wawasan serta memperluas pergaulan melalui perkenalan dengan peserta pelatihan. Saya sangat menikmatinya.

Pelatihan dilaksanakan seharian penuh. Sayang, dalam latihan saya kurang merasakan hasilnya. Mungkin karena tidak ada masalah yang berat atau jangan-jangan saya yang kurang serius menjalaninya. Meski bagitu saya tetap bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini.

Suatu keajaiban terjadi tatkala saya sampai di rumah usai mengikuti pelatihan. Tubuh saya gatal-gatal dan timbul warna merah di kulit tubuh saya. Mungkin alergi, istilah orang-orang. Ini adalah saat tepat mempraktekkan keahlian yang baru saja saya pelajari. Hasilnya, mantab. Dalam hitungan menit, gatal-gatal menghilang.  Serasa seperti ada hembusan hangat di sekujur tubuh saya.

Mulai saat itu, saya yakin sekali bahwa terapi ini sangat dahsyat. Saya pun jadi tergerak untuk menterapi orang lain. Teman kerja adalah sasaran pertamanya. Alhamdulillah saya mendapatkan pasien dan berhasil menterapinya. Saya semakin bergairah menggunakan  terapi ini.

Kabar kurang bagus datang dari kampung, nenek saya jatuh di kamar mandi. Tulang selangkangannya mungkin bergeser, beliau kesakitan jika bergerak. Saya pun pulang menjenguk. Setelah melihat kondisinya,  saya menawarkan terapi pada nenek. Beliau dengan senang hati mau diterapi. Saya pun segera menterapinya. Alhamdulillah sakitnya berkurang drastis meski belum bisa berjalan normal.

Usai terapi sakit tulangnya, saya pun menceritakan bahwa terapi ini bisa juga untuk menghilangkan kecanduan merokok. Untuk diketahui, nenek saya ini perokok. Sehari biasanya menghabiskan sebungkus rokok "walang kekek", rokok yang dibungkus dengan daun jagung.

Dalam hitungan menit, kecanduan rokok pun beres. Beliau tak selera lagi. Belakangan beliau cerita bahwa masih merokok hanya pas ada teman yang main ke rumah. Itu pun hanya 2 batang dalam sebulan. Wow, jika dibandingkan sebelumnya sangatlah jauh yaitu sebungkus sehari.

Alhamdulillah, belajar terapi yang tadinya untuk diri sendiri ternyata bisa membantu banyak orang. Bahkan saat ini menjadi profesi saya sebagai emotional & mental therapist. Keahlian terapi ini sangat membantu perjalanan karir saya saat ini. Memang, kebaikan sekecil apapun pastilah mendatangkan kebaikan. Contohnya adalah belajar terapi ini, tidak saya duga menjadi salah satu sarana mencari penghidupan saat ni. Terima kasih ya Allah atas semua ini.
Read More..

Potonglah rambutku, biar aku tenang !

Posted by Mahmudi BM 0 komentar
Pada akhir tahun 2012 yang lalu, saya mengisi pelatihan publik dengan topik utama belajar tentang NLP di Ciputat. Peserta yang hadir ada mahasiswa/i, guru, trainer dan wiraswasta. Peserta yang beragam membuat suasana pelatihan semakin menarik. Latar belakang yang berbeda selalu memberikan ragam cerita yang unik. Ada guru yang sangat filosofis. Ada trainer yang terkesan sangat bijak. Ada mahasiswi yang sangat ceriwis. Ada pula yang pendiam, namun ketika bicara malah lucu.

Seperti biasa, sebelum acara mulai saya memperkenalkan diri dan meminta peserta saling mengenalkan diri pula. Hal ini bertujuan agar suasana jadi lebih hangat dan akrab selain untuk mengetahui harapan dan pengetahuan peserta tentang materi pelatihan yang akan diberikan. 

Pelatihan berjalan dengan lancar. Semua antusias dan tampak sangat interaktif. Ini menandakan peserta nyaman dan enjoy mengikuti pelatihan. Saya sangat senang sekali. 

Suasana berubah  menjadi sangat serius ketika sesi praktek, di mana seorang mahasiswi maju ke depan menjadi contoh praktek. Ia duduk di sebelah kanan saya. Praktek yang akan dilakukan adalah salah satu teknik yang ada di NLP yaitu mengubah Submodality. Pada prinsipnya, pikiran memiliki struktur tertentu. Struktur ini bisa dalam bentuk visual, auditori dan kinestetik. Mengubah struktur berarti mengubah realitas dalam pikiran seseorang.

Teknik ini sangat bermanfaat untuk terapi, selain untuk komunikasi. Hebatnya lagi, kita bisa melakukan terapi tanpa klien  menceritakan apa yang sedang dialaminya. Dengan begitu, seseorang bisa aman dan nyaman melakukan terapi tanpa khawatir kejadian yang mungkin memalukan diketahui orang lain.

Saat praktek dimulai, raut wajahnya tampak begitu serius, marah dan benci. Emosinya semakin meninggi tatkala diminta mengenang kembali kejadian yang membuat menderita. Ia tidak banyak cerita, sebaliknya terlihat wajahnya mulai memerah serta air matanya menetes deras. Suasana hening, sementara mahasiswi di sebelah saya sangat emosional.

Sambil menangis, dia mulai berkata-kata, mengungkapkan kemarahan serta kebencian terhadap seseorang. Ia juga menunjukkan rasa tidak nyaman di beberapa bagian tubuhnya. Terbesit dalam pikiran, mungkinkah ia pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu kecil? Semua hanya menduga-duga. 

Praktek ini menyita waktu yang cukup lama, padahal ini hanyalah untuk contoh. Saya tidak tega untuk menghentikannya sementara mahasiswi ini sedang dalam puncak emosinya. Saya memilih untuk menuntaskannya saja. 

Bersamaan tangisnya yang kian menjadi-jadi, hidungnya mengeluarkan sedikit darah. Beruntung saya pernah mengalami kejadian seperti, jadi tetap bisa tenang meneruskan proses terapi. Sementara peserta dengan serius mengamati proses ini, saya melihat ada tanda-tanda mahasiswi ini segera tuntas emosionalnya yang dipendam selama ini.

Tiba-tiba  ia meminta pisau, saya pun memberikan penggaris, ya namanya juga terapi. Maksudnya untuk menggantikan pisau, pura-pura  saja.  Dia ingin pisau beneran, tentu saja saya tidak berikan. Lalu ia meminta gunting,  saya berikan benda lain. Saya kuatir kalau sesuatu yang buruk terjadi. Tapi, dia tetap menginginkan gunting.

Saya pun menanyakan,  untuk apa dia meminta gunting. Ternyata dia ingin memotong ujung rambutnya. Dia merasa semua bebannya telah mengerucut dan bergerombol di ujung rambutnya. Dengan hati-hati dan rasa kuatir jika nanti rambutnya tampak jelek setelah mengguntingnya, saya pun langsung memenuhi permintaannya. Seikat rambut telah terpotong dan bersamaan itu segala bebannya pun ikut terlepas.

Tampak raut  wajahnya menjadi ceria. Dia tersenyum, lalu tertawa. Mungkin dia mentertawakan dirinya sendiri sebagaimana beberapa orang yang pernah saya terapi, mereka tertawa setelah segala bebannya lepas. Mungkin dia  berpikir, kok bisa ya sekian lama bertahan dengan semua beban yang dideritanya dan bisa beres dalam sekejap, terkadang hanya dalam hitungan menit.

Setelah urusan dengan mahasiswi ini beres, semua peserta pun mempraktekan ilmu yang baru saja diperagakan. Suasana pun mencair, lebih santai,  lebih ceria. Materi pun dilanjutkan hingga selesai maghrib. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan hari itu memberikan pengalaman baru bagi saya dan seluruh peserta. Potong  rambut, masalah beres.




Read More..

Serunya ke Tumalei

Posted by Mahmudi BM 0 komentar
Inilah perjalanan yang sangat seru sekaligus menguji adrenalin selama berada di Pulau Mentawai. Menaiki kapal nelayan yang tidak terlalu besar, dengan 7 orang penumpang terasa sangat menyenangkan bagi saya, apalagi ini adalah perjalanan laut pertama dalam misi kemanusiaan di Pulau Mentawai. Tujuan kami adalah Pulau Tumalei, pulau terpencil dimana salah satu perkampungannya tersapu habis oleh Tsunami.

Menurut informasi, tidak mudah untuk sampai ke pulau ini. Ombaknya antara 3m-5m tingginya dan sangat jarang relawan yang mendatangi pulau ini dibanding tempat  lain yang terkena gempa maupun tsunami. Bukan tidak mau melainkan sulitnya medan yang ditempuh dan resiko yang harus di ambil, kapal terbalik atau pecah. Nyawa taruhannya.

Saya menikmati semua pemandangan dan perjalanan ini. Sesekali diguyur hujan tak membuat saya dan tim lemah semangat, yang ada semakin menikmati dan ingin segera menyelesaikan misi ini. Semua baik-baik saja bahkan kami sempet memancing ikan dalam perjalanan. Beberapa ikan tongkol kami dapatkan  dan langsung dimasak.

Rupanya kapal ini memiliki dapur yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga bisa memasak meski kapal bergoyang-goyang atau tergoncang. Ikan pun dimasak sederhana, cukup dikasih garam dan digoreng saja.  Setelah matang, langsung dimakan dengan saos. Wow, ikannya terasa manis. Mungkin karena masih sangat segar, habis dipancing langsung dimasak. Inilah pengalaman pertama mancing di laut dan langsung memasaknya, kemudian menyantapnya. Nikmat sekali.

Setelah menikmati ikan goreng, kini ombak besar setinggi 3m-5m sedang menghadang di depan sana. Saya pun langsung sigap mengenakan jaket pelambung. Kapal pun terasa naik turun mengikuti gelombang ombak yang kian besar. Tatkala kapal berada di gelombang bawah, yang terlihat adalah ombak di sekeliling kami, sementara jika kapal berada di gelombang atas, terlihat pulau di samping kami. Sangat mendebarkan.

Pada saat kapal tinggal beberapa meter memasuki gelombang besar, sang nahkoda memberikan aba-aba, "Jika saya bilang loncat,  loncat semua." Wah, sepertinya keadaan emang genting dan membuat saya tegang. Menurut sang nahkoda, yang dikhawatirkan bukanlah kapal terbalik tapi kapalnya pecah saat menerjang ombak. Yah paling-paling saya terseret ombak ke pantai kalau loncat, kan pakai jaket pelampung, itu pikir saya.

Medan berat ini bisa dilalui dengan selamat dan saya sedikit mual. Untung ada makanan, jadi langsung saya ganjal dengan makanan agar tidak muntah. Perjalanan pun dilanjut dengan perahu yang lebih kecil dan panjang. Lebarnya cukup untuk satu orang. Jarak air dengan penumpang cuman beberapa senti sehingga saya bisa menyentuh air.

Perjalanan sangat lancar. Pemandangan menyusuri sungai menuju tempat pengungsi sangat indah sekali. Tak terasa kami pun sampai di tempat pengungsian. Terlihat tenda-tenda, anak-anak dan juga para orang dewasa sibuk dengan aktifitas mereka. Kami pun menuju tempat Pak RT dan menyampaikan misi kami ke tempat ini.  Memberikan bantuan sembako dan juga pelaksanaan trauma healing di tempat ini.

Mendengar penjelasan kami, pak RT langsung berkoordinasi dan mempersilahkan kami melaksanakan misi kami. Untuk trauma healing, beberapa orang langsung memberi tahu bahwa ada satu orang yang masih tampak sangat sedih, dia depresi berat. Keluar, rumah dan hartanya hilang diterjang tsunami. Tatapan matanya kosong saat bertemu dengan orang ini, lelaki dewasa yang mungkin umurnya sekitar 40-50 tahun.

Pelaksanaan trauma healing diadakan di tenda besar yang biasanya digunakan untuk tempat ibadah. Acara berlangsung lancar.  Bapak ini, yang tampak dalam foto dengan sukarela maju ke depan untuk diterapi sekaligus menjadi contoh praktek bagi yang lainnya. Sambil saya menterapi bapak ini, yang lain menirukan saya. Terapi berlangsung dalam beberapa menit saja, mungkin sekitar 10 menit.  Bapak ini pun merasakan perubahan, bisa senyum tawa dan bahkan dengan antusias menceritakan terapi yang baru saja dilakoninya.

Alhamdulillah, bersyukur sekali bisa membantu para korban ini dalam mengatasi masalah emosi dan mentalnya. Yang telah hilang memang tak bisa kembali lagi, tapi kehidupan haruslah terus dijalani. Melihat wajah orang-orang ini kembali ceria, menyiratkan harapan kehidupan yang lebih baik segera mereka raih. Memulai kehidupan yang baru, merintis kembali kejayaan yang pernah mereka capai sebelumnya. Merangkai kembali kebahagiaan yang telah pergi.

Meski saya datang untuk membantu mereka bangkit dari musibah, sebenarnya merekalah yang membangkitkan hati saya, pikiran saya, semangat saya dan hidup saya.  Melihat perjuangan mereka  di pedalaman memberikan inspirasi dan energi kehidupan bagi saya. Terima kasih semuanya. Terima kasih ya Allah.





Read More..

Aku suka mendengar dengan telinga kanan saja !

Posted by Mahmudi BM 0 komentar

Pengalaman saya kali sangat menarik, yaitu menterapi seorang anak SD yang memiliki kebiasaan mendengar dengan telinga kanan. Bagaimana awal mulanya? Berikut cerita lengkapnya;
Semula saya diminta orangtua Devi (nama samaran) untuk menterapi anaknya yang kembar ini. Dua-duanya cewek. Meski rada-rada malu pada awalnya, akhirnya bisa juga masuk ke dalam dunia mereka. Maka dengan segenap kemampuan pun saya beraksi.
Read More..

Mimpi Seram Ini Menyiksaku

Posted by Mahmudi BM 0 komentar

Suatu hari saya di telpon seorang teman, mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Sudah dua hari badannya lemes karena mimpi buruk. Makanpun tidak berselera. Rasanya benar-benar menyiksa mimpinya itu. Ia melihat seorang gadis kecil sedang meminta tolong padanya.
Kebetulan ia memiliki saudara yang katanya 'orang pintar'. "Jangan bantu gadis itu,"kata saudaranya."bahaya buat kamu,"lanjutnya. Teman saya ini merasa kebingungan, apa yang harus dilakukan. Ia takut untuk tidur karena pasti akan mimpi melihat gadis yang tidak dikenalinya.
Read More..

Fobia Tikus

Posted by Mahmudi BM 0 komentar
            Suasana pelatihan kali ini memberikan kesan tersendiri pada saya, semua pesertanya adalah perawat. 
Mereka adalah perawat RSI Yarsis, Surakarta dan tempat pelatihan diselenggerakan di salah satu ruang rumah sakit tersebut. Sangat senang sekali rasanya bisa berbagi ilmu dengan para perawat ini yang kesehariannya banyak membantu dan merawat para pasien untuk memulihkan kondisi kesehatannya.
     Seperti biasanya, sesi terapi fobia adalah saat-saat yang mendebarkan bagi peserta yang akan diterapi tapi saat yang menyenangkan bagi saya. Momen seperti inilah yang membuat semua orang takjub tatkala penderitaan yang dialami bertahun-tahun, lalu beres dalam hitungan menit. Mereka melihat sendiri sejarah ini. Bagi  saya ini memperkaya pengetahuan sekaligus pengalaman tentang terapi.
            Melihat kebahagiaan yang terpancar kala orang bisa terbebas dari derita trauma atau fobia sungguh membahagiakan.  Begitupun dengan pengalaman kali,  di RSI Yarsis Surakarta ini. Seorang perawat fobia dengan tikus. Semua orang mungkin tertawa, dengan tikus kok takut? Mungkin begitulah batin kita. Namun saya percaya, ketakutan mereka adalah nyata baginya.
            Sesi terapi pun berlangsung dan perawat  itu pun dengan semangat mengikutinya. Beberapa menit terapi berlangsung, perawat itu mulai ketakutan, histeris dan menangis sejadi-jadinya. Ini berlangsung hanya sekitar 3-5 menit saya. Kemudian ia mulai lebih tenang, rileks dan nyaman. Saat sesi berakhir ia langsung tertawa, entahlah, tertawa senang atau sedang mentertawakan diri sendiri. Sama tikus kok takut? Mungkin ini yang dipikirkannya setelah terapi.  
           Meski saat itu tidak ada tikus beneran, ada mainan berbentuk tikus untuk menggantikannya. Ia pun dengan tenang memegangnya. Alhamdulillah, terapi berhasil.  Kami semua pun tersenyum dan tepuk tangan menyambut keberhasilan ini.
      


Read More..

Page View